Waiting for............. love

02.35

K’Eya, kaka kelas yang lumayan akrab denganku  memanggil. Aku keluar dari kelas untuk menemuinya. 
“kenapa ka? tumben lo manggil gue..”
 “lo tau ga berita terbaru dari kelas  11ips2?” k’Eya menahan tawa, aku bingung.
 “kaga. Emang apa’an?”. K’Eya tertawa dan menjawab
“Rian nembak cewe”.
JLeebbb!
Rasanya saat itu darahku berhenti mengalir dan jantungku berhenti berdetak. Rasanya sakit!

Setelah beberapa menit aku terdiam, aku berusaha mengumpulkan kekuatan sebelum air mata ini meluap dengan bebasnya, aku berusaha untuk membuka mulut dan bicara,
“n... nembak si...apa? I...ima?”
“iya.. hahhaha” k’eya menjawab dengan entengnya dan tanpa memperdulikan perasaanku.
                Rasa yang sama kembali menerpa jiwaku, namun kali ini rasanya lebih menyakitkan. Aku terdiam, dan langsung masuk ke dalam kelas. Aku tak ingin orang-orang melihat tangisan ku. Pikiran ku melayang.  Aku segera mengemasi barang-barang ku, dan bergegas pulang. Kembali lagi, pikiran ku melayang dan kata “Rian nembak cewe” kembali terdengar berkali-kali. Air mataku tak bisa ku tahan. SAKIT, SAKIT sekali rasanya.
                Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar. Rasanya sulit di percaya. Air mataku keluar lagi, kali ini lebih banyak dari yang tadi. Pikiranku kacau.
Dia tega banget  nge’gantungin gue!! Dan akhirnya ngelepasin, tanpa perduli sakit yang gue rasa. SAKIT,,SAKIT,, SAKIT banget!!!”
Kecewa, sedih, marah, dan sakit bercampur menjadi satu.
                Ku lihat SMS di handphone ku, dari Rian. Airmata ini lagi dan lagi meluap dengan bebasnya.  Saat ku baca sms yang ia kirimkan tadi malam
From : Rian
kau seperti bintang
menerangi setiap langkahku, kau seperti bintang dirimu yang kini menjadi pilihanku dan kini hanyalah nafasmu yang jadi nafasku kau buat aku jatuh cinta dan jatuh cinta pada dirimu
 Aku tak tau apa maksudnya mengirim sms seperti itu. Sms itu membuat ku berharap dan terus berharap untuk menjadi kekasihnya.  Tentu saja, sms itu membuat hatiku berbunga-bunga.  Namun sekarang, aku hanya menganggap Rian salah mengirim sms. Bukan untuk Icha, tapi untuk Ima. Semua  Sms dari Rian masih ku save, semua sms  yg membuat ku terbang jauh dalam harapan.
                Saat akan tidur, aku hanya berharap agar semua itu hanyalah mimpi buruk dan tak akan menjadi nyata. Namun saat terbangun, aku baru menyadari semua itu bukanlah mimpi. Itu adalah sebuah realita yang menyakitkan. Andai ia tau betapa sakitnya aku. Aku terluka, sungguh terluka, tak percaya teganya dia mengkhianati cinta ku. Aku memang  bukan siapa-siapa, tapi tidakkah dia menyimpan sedikit rasa simpati padaku? Ia tau aku sangat mencintainya, kenapa Ia malah semakin membuat ku mencintainya? AARGH!! AKU BENCI RIAN
                Cukup satu hari aku memikirkan hal itu, sekarang aku tak ingin mengingatnya lagi. Itu hanya membuat ku terluka. Aku akan menghadapi hariku seperti biasa, Icha yang selalu ceria. Namun,  tak bisa ku pungkiri, hal itu membuatku kembali dan kembali menangis. Tapi, aku berusaha kuat dan tak ingin lemah di hadapannya.
                “eeh Icha, lo tau ga kalo Rian….”
“iya gue tau” aku memotong kalimat K’wanda
“lo ga sedih?” K’wanda terlihat khawatir
“sedihnya udah, kemaren doang tapi. Sekarang siih sisa-sisanya aja. haahahaa”
“hhaah? Masa.. gue salut sma lo. Bangga gue punya ade’ kelas  kaya lo.”
“iyalah, gue gitu.. hheehee”setelah k’wanda berlalu, aku terdiam. Apa aku benar-benar rela? Apa aku tidak sedih? Apa aku……….. AARRGH!! Itu bohong! Aku sedih Rian bersama Ima, AKU SEDIH!! AKU GAK RELA!
                Mungkin mulut  bisa berbohong, tapi mata  tak bisa berbohong. Sahabatku tau bagaimana perasaan ku, bagaimana sakitnya aku. Ia telah mengenalku lama. 
“Cha, gue mohon lo jangan bohong sama gue. Gue udah kenal lama sama lo. Plis, gue mohon lo jujur.”
 Aku tak menjawab pertanyaan Disya, hanya air mataku  yang menjawabnya.
“Icha, gue tau elo kuat. Gue mohon, cerita sama gue.” Disya terlihat sangat khawatir
 “Disya, guu..guee.. guee ga sanggup”
 “lo bisa, gue yakin lo bisa. Kalo elo ga cerita dan mendam ini, lo semakin sakit, Cha”
 “gue janji, gue akan cerita. But, ga sekarang. gue bakal cerita sama lo kalo gue udah kuat nahan airmata gue. Thanks atas perhatian lo sama gue.”
                “Sya, gue udah bisa cerita sama lo sekarang.”
 “ya udah, cerita aja.. gue siap dengerin lo.”
“ Sya, lo tau kan kalo gue udah suka sma Rian jauh sebelum gue and Rian sahabatan. Awalnya gue emang gak yakin, gue bakal bisa jadian sama Rian. Tapi, 4 bulan terakhir ini,, gue and Rian udah kaya pacaran. Hts’an gitu laah. Dia aja ngesms gue pake love segala. Kalimat2 di smsnya juga bikin gue nge’fly banget. Dia pernah bilang sama gue, kalo dia cinta and sayang sama gue. Tapi, dia ga mau pacaran sama gue. Katanya dia belom bisa. Ywdah, gue and Rian jalanin itu semua. Dia bilang gitu baru satu minggu yang lalu. Tapi, kemaren?  Dia udah nembak orang. Gue ga bisa terima itu. ” air mata ku mulai menetes
 “guu..guue.. guee sayang sama Rian”
 Disya memeluk ku “Iya, gue tau. Mungkin lo ga bisa nerima itu. Tapi, emang itu keadaan nya. Lo harus bisa nerima itu”
Aku diam.
“Hmm.. Chacha….. Kalo elo ga bisa nerima itu, lo bisa belajar dari kejadian itu. Mungkin perlahan lo akan bisa kuat.”
                Saat aku dan Disya sedang makan di kantin, Rian datang ke meja tempat aku dan Disya makan.  
“Rian” ucap Disya.
Rian duduk tepat di sebelah ku. Aku langsung berdiri dan ingin pergi menuju kelas.
“Icha” ucap Rian sambil memegang tangan ku, Rian mencegah ku pergi. Aku tak bisa menahan air mata ini. Di situ aku berusaha kuat, aku tak ingin lemah di hadapan Rian.
“Icha, gue mohon jangan pergi dulu. Gue mau ngejelasin semua nya..”. aku tak menghiraukan ucapan Rian. Aku langsung pergi menuju kelas. Disya menyusulku di belakang.
                “Lo kuat Cha.. Gue yakin lo akan kuat.. jangan nagis dong, mana Icha yang selalu ceria.. hhehee… senyumnyaa dong..” Disya berusaha menghiburku. Aku tersenyum,
“gitu dong, kan lo makin cantik, walaupun masih cantikkan gue.. hheehee”
 “hhaahaa.. apaan sih lo..”
                Saat ku cek handphone q,, ada sebuah messages from Rian.  Lalu ku buka sms darinya
From Rian :
 Cha,, semua itu gak seperti yang lo kira. Gue emang jadian sama Ima,, but gue Cuma manfaatin dia doang,, Cuma dia yang bisa bikin band gue masuk ke dapur rekaman.
                “Disya, coba lo baca” Disya membaca message di handphone ku
                “Apa?? Eemm… cha, terus menurut lo gimana?” Disya memegang tanganku
                “Kalo seneng, Ia gue seneng karna dia cuma manfaatin Ima. Tapi, kalo naluri gue sebagai cewe, gue juga sakit Sya klo di gituin. Tega banget sih si Rian.”
                “Gue tau, elo akan ngambil keputusan yang baik. Elo bisa jadi Icha yang kuat. Elo pasti bisa ngelakuin hal yang bener.. Hwaiting Honey!!” Disya berteriak. Anak-anak yang ada di kelas melirik heran ke arah aku dan Disya.
                “Untung belum ada gurunya, Sya. Kalo ada, matilah kita” ucapku sambil mencekik leher Disya lembut.
                “Hhaahahahaaa” tawa kami melebur menjadi satu
                From : Rian
            Love, plis.. aq mohon maafin aq. Aq gak ada rasa apapun ke Ima. Aq Cuma cinta sama kamu. Aq udh nelpon kmu ratusan kali, tpi gak kmu angkat. Aq mohon Love.
            Aaahh! Hati ku tak sanggup marah pada Rian. Aku terlalu lemah untuk membencinya.
                To : Rian
            Tapi, kmu gak shrusnya kya gitu kan? Cuma buat rekaman aja musti pacaran sma Ima. Kmu tau betapa sakitnya aku? Kamu bilang kmu cinta sam aku, tpi........... Aargh! Udahlah. Skrang terserah kmu aja. Aku udah cape, Rian !
            Aku memang terlalu lemah untuk membenci mu, Rian.
                From : Rian
Love, aq telpon ya. Aq mohon, angkat
  Rian Icha
Sesaat setelah membaca sms, handphoneku berbunyi. Tanda telpon masuk.
Rian calling..
“Angkat,, enggak,,, angkat,, enggak,, ANGKAT” aku pun mengangkat handphone
Hening.
“Love, maafin aku” Rian memulai
“hmm” aku berusaha untuk jaim
“Love aku mohon. Aku Cuma cinta sma kamu.” Rian memohon
“emm” aku enggan berbicara
“Aku mohon.  Cha, percaya aku. Aku cuma cinta sama kamu. CUMA KAMU!” Rian berusaha meyakinkan. Aku tak bisa menahan lagi genangan kabut di mata. Semua pecah dan mengalir dengan deras.
“love?” Rian memanggil
Tak ada jawaban dariku. Hanya suara seguk terdengar samar.
“Love? Kamu nangis? Jangan nangis Love. Aku mohon. Aku semakin merasa bersalah”
“Eeee.. Gak kok. A..aku gak nangis.. Cuma flu”
“Love...”
“Ya?”
kau seperti bintang menerangi setiap langkahku, kau seperti bintang dirimu yang kini menjadi pilihanku dan kini hanyalah nafasmu yang jadi nafasku kau buat aku jatuh cinta dan jatuh cinta pada dirimu” Rian menyanyikan lagu ‘Seperti Bintang’ yang biasa di bawakan oleh Afgan, yang juga sms yg pernah di kirim Rian
                Aku terdiam. Aku tak sanggup.
                Tut..tutt.tut..
                Ku matikan handphone. Aku terduduk lemah dia atas kasur, di temani tetes air yang terus mengalir.
                “APAAA?” Disya kaget waktu mendengar semua ceritaku tentang Rian
                Aku hanya menunduk
“Gue seneng dengernya. Selamat yaa sayaang ku, Ichaaaaa” Disya lalu mencubit lembut pipiku
“apaan sih, Sya. Jujur gue seneng banget. Sangat-sangat seneng. Tapi, ga tau kenapa gue juga kecewa.”
“maksud lo?” Disya tak paham
“Gini lhoo, mak...” kalimat ku terhenti.ketika ku lihat seorang pria, membawa sebucket pink rose flower, dengan balon berbentuk hati yang juga berwarna pink. Di tambah tulisan ‘CLARISSA ANDINI CLEOSAVIKA I LOVE YOU’ di sebuah kertas karton berwarna pink
“Chaa,, gue ga salah liat kan?” Disya tak percaya. Begitu pula aku. Aku sangat tak percaya.
“Cintaku bukanlah cinta biasa.. jika kamu yang memiliki.. dan kamu yang temaniku seumur hidupku.. percayalah kepadaku.. semua ini ku lakukan, karna kamu memang untukku” Rian berlutut di depan ku menyanyikan lagu Bukan Cinta Biasa. Sambil menggenggam lembut tanganku..
Aku terdiam. Tak bisa berbicara apapun.
“Cha, aku cinta sama kamu. Will you be my girlfriend?”
Lidahku kelu. Membuka mulut pun sulit.
“Cha, aku udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Ima..”
Aku kaget. Tapi, tetap saja.. mulutku tak bisa di buka.
“Clarissa Andini Cleosavika, be my girlfriend please!”
Hening.
“TERIMA.. TERIMA... TERIMA.. TERIMA” murid-murid yang berada di sekitar kami berteriak sambil bertepuk tangan.
“Please” Rian kembali memohon
“kalo gue gak mau gimana? Maksa yaa lo” aku mencoba tegas
“Chaaa” Disya menegur
“gue bunuh diri kali” Rian melawak tapi berusaha serius
“hhaahahaaa” tawa pun pecah. Semua murid yang berada di sekitar kami ikut tertawa.
“so, Will You?”
“Emm... I’m sorry... ALEXADRIAN ” Rian terlihat gugup, teman-teman yang tadi ramai memberi sorakan menjadi diam berharap.
 “I WILL” semua bertepuk tangan. Rian pun memelukku. Disya mengabadikan moment ‘pelukan’ itu dengan handphone yang di bawanya. Aku tak ingin moment ini berakhir.



You Might Also Like

12 L.O.V.E

silahkan beri komentar kritik dan saran.
Terimakasih.

#muchlove