10/05/13

Hati.



Tak bisa dipungkiri, disana, di sudut hatiku terdalam aku merasa kehilangan.

Ya udah kalo itu yang
terbaik buat kamu..
Untuk yang kesekian kalinya di hari ini, ku baca sms dari Farel -pacarku- mantan pacarku. Perbedaan yang paling mendasar meyakinkan keputusanku. Salahkah aku jika menjadikan agama sebagai alasan? Toh nanti pada akhirnya, selama apapun aku bertahan ‘kita’ akan berakhir menjadi aku-kamu juga.
Farel Antonius, laki-laki penuh ketulusan yang menemani hariku tiga bulan belakangan. Hari ini tepatnya tiga bulan di mulainya kisah ‘kita’ bersama. Dan di hari ini kisah ‘kita’ berakhir sederhana. Menyesal? Tidak untuk sekarang.
“Aku suka kamu. Gak tau kenapa. Tapi perasaan ini selalu mengganggu, kamu, kamu, kamu dan kamu yang terus aku pikirkan.” Kamu terus berbicara sementara aku masih berusaha mencerna satu-persatu kata yang kamu ucapkan.
“Mm maksudnya?” akhirnya pertanyaan yang daritadi berputar tak tertahankan
“Aduh gimana ya bilangnya?” Kamu menggaruk kepala, “mm.. Kamu mau jadi pacarku? Tapi kalo kamu gamau aku gapapa kok.” Ucapmu cepat.
“Kamu serius?”
“Iya aku serius sama kamu.”
“Gak terlalu cepat? Kita baru kenal satu minggu loh” dan aku juga baru satu minggu berstatus jomblo, batinku. Berat.
“Gak ada yang terlalu cepat. Sepersekian detik setelah bertemu kamu pun, kita bisa jadian, apalagi ini yang sudah…” kamu menghitung “605800 detik” lanjutmu
“Haha.. ada-ada aja kamu.. Kalo kamu beneran serius, yaudah Iya aku mau” Aku tersenyum. Tulus.
“Jadi, kita pacaran?”
Aku mengangguk. Refleks kamu memelukku.
“Udah ah. Malu.” Entah sudah semerah apakah pipiku.
Ya. Hari itu di sanggar tari, setelah seminggu kita bertemu, kita menjadi sepasang kekasih. Bahagia tentu, tapi ada sedikit perasaan mengganjal di hatiku.

Ca, plis ca.. jangan tinggalin Ai
Ai mau nya Ica yang terakhir buat Ai.
Sms dari Alif Alfarizi, pacarku, seminggu yang lalu. Tapi semua sudah terlambat. Satu tahun aku bertahan demi menemani cintanya, aku diacuhkan. Siapa yang tidak kecewa, orang terspesial yang di harapkan mengucapkan ‘Selamat ulang tahun’ bahkan tidak ingat sama sekali. Sama sekali. Sakit….
Itu adalah hari terakhir aku menangis sampai sesegukan karena lelaki, setelah itu aku  berjanji tidak akan menangisi harapan kosong dari lelaki. Sungguh sakit.
Dan aku mengakhiri hubunganku dengan Alif jauh setelah hari itu. Bukan karena Farel, aku pun baru mengenalnya setelah kami –aku dan Alif- tidak lagi satu. Alasannya, aku lelah dan ingin bebas. Bebas dalam artian, bebas dari dia.
Terlalu klasik kalau aku mengakhiri karena dia lupa hari terspesialku. Tapi, selama Satu tahun dua bulan empat hari ini aku berusaha memahami keegoisan, keposesifan dan keagresifan nya. Waktu yang lama untuk mengerti, namun nyatanya aku tetap tidak bisa mengerti. Semuanya terlalu sulit di mengerti, dia sulit dimengerti.
Memori ku tiba-tiba memutar balik saat Alif diam-diam mendekatiku. Scene-scene yang sudah terlupa hadir kembali. Modusnya hebat, meminta ku membantunya untuk kembali dengan mantannya yang juga teman dekatku. Sialan. Aku tertipu dan tidak menyadarinya. Berkali-kali dia memintaku untuk menjadi kekasihnya, selalu ku tolak. Tapi terakhir, malam minggu itu dia benar-benar meyakinkanku.
“Amala Cleosavika. Maukah kamu menjadi pacarku?” katamu sambil berjongkok bak pangeran yang ingin mengajak sang putri berdansa, kamu menatapku tepat dimanik mata.
“hm…” Aku bingung, tak punya persiapan kata-kata “Kamu janji jangan perlakukan aku kaya mantan-mantan kamu ya?”
“Iya aku janji”
“Pinky promise?” Lalu kamu mengaitkan kelingkingmu di kelingkingku.
Semua berlalu dengan lubang-lubang hitam yang kamu tutupi dengan kesalahanku. Kamu memperlakukanku bukan seperti pacarmu, tapi seperti anak kecil yang di campakkan. Menuntut ini-itu dariku, Sementara kamu? Terus seperti pengecut.
Aku tahu masa lalu mu dengan mantan-mantanmu. Pacaran-Menduakan-Putus. Selalu begitu siklusnya. Salah kalau ada sedikit rasa tidak percaya? Wajar kan?
Ya tapi kamu baik, kamu mencintaiku. Sangat mencintaiku, katamu. Tidak ada yang salah dengan semua itu, yang salah adalah caramu mencintaiku.
Aku lelah dan ingin menyerah, tapi kamu bilang “Kita akan berjuang sama-sama”, aku mengiyakan.
Dan di hari itu saat aku mengakhiri kisah ‘kita’, kamu menagih janjiku.
“Ai cinta sama Ica. Ai mau Ica yang terakhir buat Ai” Kamu menangis di seberang sana
“Kalo Ica gak mau?” sepersekian detik setelahnya, aku menyesali ucapanku.
“Plis Ca….” kamu putus asa.
“Maaf” Lalu aku menutup telepon darimu.
Setelahnya tak terhitung berapa puluh telepon darimu yang ku acuhkan. Sms mu hanya ku baca dan tidak ku balas. Jujur, aku merasa bersalah.
Ikam munyak, Unda jua.
Kam sakit, sama ja kita.
Uyuh unda, ampih ja sudah.
Kita sama-sama sakit. Ya. Bukan hanya kamu, Alif.
Mungkin aku bodoh karena telah menyia-nyiakan orang yang benar-benar mencintaiku, tapi lebih bodoh lagi kalau aku terus terjebak bersama orang yang tidak aku cintai.
Satu tahun dua bulan empat hari tidak membuat aku bisa mencintaimu. Sayang? Pasti, tapi semua tergerogoti oleh sakit yang kamu beri.
Sekarang aku sendiri, memilih sendiri. Mencintai tanpa di cintai, sakit. Dicintai tanpa mencintai, beban. Timbal balik. Ingin dicintai dan mencintai, suatu hari nanti. Hidup itu pilihan.
Hmm… tiba-tiba aku merasakan rindu yang mendalam. Twitter selalu menjadi tempat curhat terbaik. Hanya diam dan mendengarkan.
“Kangen ucapan Guten Morgen & Gute nacht dari seseorang~” Spam pertama. Untuk Alif. Alif dengan setia mengirimkan ucapan ‘Guten Morgen & Gute nacht’ setiap hari. Tak peduli bagaimana kami saat itu, sesibuk apapun dia, ucapan itu tidak pernah hilang selama satu tahun dua bulan empat hari.
“Kangen ucapan Good Mornin’ & Good Nite dari kamu” Teruntuk Farel. Walaupun tidak se-ontime dan sesetia ucapan Alif, Farel juga selalu mengirimi ku ucapan itu. Semua juga, tapi sungguh aku merindukannya.
“Kangen ngucapin ‘Kamu jangan lupa solat trus makan ya pop’ setiap pulang sekolah” Pop. Panggilan sayangku untuk Alif. Pop dan Cup, Popcorn dan Cupcakes. Lucu ya.
Tapi sekarang hubunganku dengan Alif tak semanis popcorn dan cupcakes. Alif sudah seperti popcorn yang belum di masak, keras. Kami satu sekolah, kami saling kenal, bahkan kami pernah saling berbagi kasih tapi dia seperti memusuhiku, padahal aku tau diam-diam dia selalu memperhatikanku. Dia juga pura-pura dekat dengan teman sekelasnya, kemana-mana berdua, setiap pulang sekolah si ‘wanita’ nya itu duduk di tempat yang dulu aku lah disitu, tepat di belakang Alif, di motornya. Azzzzz… cemburu kah aku? No no no.. em maybe yes. Haiks…. Please jangan buat aku benar-benar merasa cemburu. Tapi salahkah? Enggak kan. Satu tahun dua bulan empat hari, pasti masih ada rasa sayang yang tersisa kadarnya saja yang berbeda.
Aku tau, Alif masih sangat mencintaiku. Dan aku tau, dia hanya ingin membuatku cemburu. Dia berhasil. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Alif, Alif, Alif.
Setelah resmi putus denganku, Alif tidak pernah lagi menghubungiku. Bak menghilang di telan bumi. Handphone ku tidak lagi berbunyi saat aku mau dan bangun tidur. Apa dia membenci ku ya? Jangan dong. Aku memang sudah tidak mempunyai perasaan sedalam dulu dengan Alif, tapi kalau Alif benar-benar membenciku, aku tidak bisa membayangkannya. Labil ya aku?
“Merindukan itu menyakitkan” Tweet galau lagi.
Siapa yang tidak pernah merindukan seseorang yang dia sayangi? Bohong kalau itu tidak menyakitkan. Tidak karuan mau apa, perasaan resah dan gelisah. Nyesek cyin.
“Cup, aku kangen kamu. Tapi kita ga bisa jalan, Ai sibuk dan Ica juga” Suara Alif di ujung sana terdengar berat.
“Iya Pop… Ica juga kangen..” Aku menghelas nafas, “Kamu Goodluck yaa buat lombanya… Menang ataupun enggak, kamu akan tetep jadi pemenang buat aku.. Emm tapi harus menang yaa hehe” lanjutku
“Haha dasar kamu…”
Lalu hening. Kami larut dalam belenggu rindu masing-masing.
“Cintaku bukanlah cinta biasa…. Jika kamu yang memiliki… dan kamu yang temaniku seumur hidupku” Tiba-tiba Alif menyanyikan salah satu lagu favoritku dari Afgan Syahreza.
“aaa.. Ai…” aku terharu.
Aku bahagia ketika kamu dengan tulus mengungkapkan perasaanmu lewat lagu, sesederhana itu.
Lalu aku juga merindukan saat kami belajar kimia bersama. Tidak ada yang mengerti, lalu kami malah menggambar tidak jelas di buku kimia. Haha…
Yang paling aku ingat dari Alif adalah tatapannya yang langsung masuk kemata. Tajam. Senyumnya yang setengah, Alis matanya, rambutnya. Hmm… ternyata aku ingat semua tentangnya.
Ai udah terlanjur sayang sama Ica. Harus gimana lagi caranya? Jujur ca, kenapa Ica kaya gini sama Ai? Sebenernya perasaan Ica ke Ai itu gimana? Ai terus berjuang kaya gini mohon-mohon biar ga di hirauin sama Ica, karna Ai sayang sama Ica. Ai gamau Ica dimiliki cowo lain, Ai gamau Ica disakitin sama cowo lain.
Sms terakhir dari Alif masih ku simpan sampai sekarang. Hampir air mataku jatuh lagi karena Alif.
Maaf..
Hanya satu kata itu yang bisa aku katakan. Apa lagi? Aku sudah cukup sakit di setiap kebahagianku bersamanya. Dia mempunyai sikap yang berbeda kepadaku, saat berdua, saat bersama teman-temannya, dan saat bersama orang banyak.
Saat berdua dia mencintaiku, menyayangiku, memperlakukan aku seperti putri. Saat bersama teman-temannya Aku benar-benar tidak di hargai. Bahkan saat ada temannya bercanda “Yaudah kita putus cukup sampe disini, Lif. Angkut semua barang-barang kamu di rumah kita” lalu yang membuat aku kecewa adalah Alif menjawab “Oke gapapa. Aku sama Nana juga” Nana… Kirana, teman sekelasnya. Padahal jelas-jelas di situ ada aku, tapi kenapa dia malah menyebut nama perempuan lain di depanku. Terlalu klasik kah aku? Di acara Expo dan Bazar di kota ku, di stadion yang penuh sesak, dia meninggalkan ku di belakang. Aku memang lamban, tapi……. Akh sudahlah… Lupakan Alif. No more Alif, no more galau.
“Pindah sekolah, pindah rumah, pindah hati #okesip” Updated di twitter lagi.
Pindah hati, dari Alif ke Farel. Banyak yang bilang Farel hanyalah sebagai pelampiasan. Tapi aku tidak merasa seperti itu. Aku benar-benar mencintainya. Have fun. Then, I choosed you to be mine, Farel.
Tiga bulan memang waktu yang tidak singkat. Setiap malam aku bertemu Farel, bukan jalan-jalan. Tapi di tempat latihan Silat. Aku baru di situ, dan dia yang mengajariku. Aku merindukan moment itu. Farel dengan sabarnya mengajariku, tulus dan selalu dengan senyum khas nya. Lesung pipit menambah kharisma nya.
Lalu ada suatu malam, saat berangkat ke sanggar tempat latihan aku kehujanan. Sampai di sanggar baju dan jaketku basah, Farel menyuruhku duduk di sampingnya, lalu dia memakaikan jaketnya di pundakku. Bahagia itu sederhana.
Di malam lain aku dan Farel bolos latihan, aku menemani Farel yang sedang sakit belajar karena besoknya Farel ada Ujian Nasional Matematika. Salah Farel juga sih, sudah tahu besoknya ada Ujian, eh masih aja ikut tanding sepakbola di luar kota. Aku sampai angkat tangan dengan tingkah Farel yang sangat santai menghadapi Ujian.
Aku senang berada di dekat Farel. Dimana pun aku dan dia berada, aku tetap diposisi sebagai pacarnya. Teman-teman Farel sangat dekat denganku, padahal aku dan Farel beda sekolah loh.
Aku merindukannya. Sangat merindukannya. Merindukan genggaman tangannya di sela jariku, tatapan matanya yang tulus tanpa celah dan senyum nya yang membuat aku jatuh cinta.
Di setiap kenangan selalu ada rasa tersendiri manis, asam, asin, dan percampuran ketiganya. Ya tapi kenangan hanyalah kenangan. Biarkan kenangan abadi bersama waktu. Merindukan, mengingat kenangan itu wajar tapi bukan berarti ingin kembali ke pelukan............ walau kadang ada juga harapan~

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...