Cinta

20.26


Follow me : @emeliAriska
Wish Afgan Syahreza read this. 
I just wanna have some conversation with ya. Please gan....


“Aku cape Gan!”
“Cinta, aku mohon” Manik mata dua sejoli itu bertemu, “Kita masih mencari peluang, mencari waktu yang tepat. Aku mohon sabarlah cintaku.” Afgan meraih sepasang tangan didepannya.
“Iya. Tapi sampai kapan?” Mata itu kembali sendu, menyembunyikan harap di beningnya.
“Sampai keadaan memungkinkan.” Afgan meyakinkan Cinta, tulus.
“Aku cape!!” Cinta berbalik, berlari meninggalkan Afgan sendiri di lorong sepi Rumah Sakit.
Aku belajar mencintaimu,
Mencintai tanpa syarat apapun.
Meski kau yang tersulit untukku,
Tapi aku tak ragu.
Handphone Cinta berdering untuk yang kesekian kalinya, dan untuk kesekian kalinya juga di abaikan begitu saja. Cinta terus melajukan mobilnya di temani butiran bening yang tak mau berhenti jatuh dari pelupuk mata.
Ah semua orang ingin di mengerti, tapi kenapa tidak ada yang bisa mengerti. Atas nama Cinta semua di korbankan. Perasaan, paksaan, sakit semua terabaikan karena satu kata, Cinta. Sampai kapan harus merasakan? Sampai kadar sabar menipis perlahan lalu habis termakan.
“Aaakhh!!!!” Cinta menggeram, mengenyahkan segala macam pikiran. Belum lagi macet Jakarta yang membuat moodnya semakin tidak karuan.
Semua ini berawal dari pertemuan keluarga Perusahaan yang menaungi Ayahnya dan juga Afgan. Sesosok berkacamata yang sesekali mengembangkan senyumnya di antara para undangan membuat perhatian Cinta hanya tertuju pada satu titik itu. Saat seorang lain yang mengajak berkenalan pun, Cinta hanya mendengarkan sekilas. Lalu bercakap tanpa arah.

“Oh iya, Kenalkan ini Abangku.” Lelaki yang sejak tadi bercakap dengan Cinta memperkenalkan seseorang yang membuat lidahnya kelu. Cinta tersenyum, berusaha semanis mungkin.
“Afgan.” Ucapnya sambil menjulurkan tangan, bersalaman.
“Cinta.” Hanya itu yang bisa terucap, sepersekian detik saling bertatapan sudah bisa membuat Cinta hafal setiap detail wajah didepannya.
“Arkan, Papa mana?” Afgan beralih ke adiknya, yang baru Cinta ketahui namanya.
“Entah.”
Lalu pertemuan itu terus berlanjut kepertemuan-pertemuan selanjutnya, yang memang di sengaja. Cinta selalu menerima ajakan Arkan dengan harap akan ada Afgan di sampingnya. Sesekali memang keberuntungan ada di pihak Cinta, namun tak sedikit yang mengecewakan.
Saat pertemuan pun, Cinta berusaha mencuri kata agar bisa mengetahui informasi tentang Afgan, Yah paling tidak tentang keberadaan.
Coffecinnth, Tulisan besar di pinggir jalan menyadarkan Cinta dari khayalnya yang panjang. Pikiran yang kusut ini memang harus di enyahkan, pikirnya.
Setelah memesan Mocca, Cinta mengambil tempat yang menjadi favorit bersama Afgan. Pojok kanan belakang, dari situ taman dan kolam ikan alakadarnya dari ‘warung kopi’ ini bisa terlihat dengan jelas, tanpa terhalang tembok lain ataupun pepohonan.
Tempat ini, kursi , meja, dan Mocca. Saksi dari kebersamaan pertama Afgan dan Cinta. Tidak ada yang kebetulan bukan? Tapi pertemuan mereka memang kebetulan indah yang sudah di rencanakan Tuhan. Siapa yang menyangka, tempat ini, kursi, meja dan Mocca menjadi favorit mereka.
“Cinta?” Sapa seseorang yang membuat Cinta mendongakkan kepala dari novel yang sedang di bacanya, lalu membenarkan letak kacamatanya.
Rasa kesal karena diganggu tiba-tiba sirna begitu saja melihat siapa yang ada.
“Af….gan?” Sahutnya terputus, grogi.
“Hai.” Senyum yang menunjukan lesung pipi membuat siapa saja akan terpesona, “Boleh gue duduk disini?”
“Eh iya iya.. silahkan” Ucapnya cepat, Cinta segera membereskan tas dan bukunya di atas meja sambil berusaha menetralisirkan hatinya.
Sore itu, Jingga senja menjadi saksi tawa kecil bahagia dua sejoli yang sedang jatuh cinta.
Satu persatu scene masa lalu terputar otomatis di otak Cinta. Membuatnya haru akan perjuangan cinta mereka. Siapa yang menyangka kisah Cinta-Afgan tak semulus kelihatannya. Tentu saja, karena ada Arkan diantara mereka.
Beberapa minggu setelahnya, tepat di hari ulang tahun Cinta dan Afgan, 27 Mei dua tahun lalu. Afgan menyatakan cinta pada Cinta. Sederhana, namun bisa membuat siapa saja akan iri melihatnya.
Mawar merah yang merupakan lambang cinta, dipersembahkan bersama lagu Bukan Cinta Biasa yang langsung dinyanyikan oleh Afgan di depan semua pengunjung Coffecinnth. Cinta yang duduk dipojok kanan belakang, di ajak kedepan sambil bergenggaman.
“Cintaku bukanlah cinta biasa.. jika kamu yang temaniku…. Seumur hidupku”
Sore itu, Jingga senja dan secangkir Mocca menjadi saksi kisah bahagia dua sejoli yang telah menjadi ‘kita’. Tak salah kedai ini dinamakan Coffecinnth, Coffe-Cinta.
Rasa bersalah juga ada menyelimuti Cinta. Malam sebelumnya, Arkan menyatakan cinta pada Cinta, namun di tolak karena alasan Cinta telah mempunyai cinta lainnya. Jahatkah? Tapi memang sejak awal Cinta tidak pernah ada rasa, Cinta menanggapi Arkan hanya alakadarnya, sebatas teman biasa. Ya, siapa saja akan menganggap 1 menjadi 1000 dikala jatuh cinta.
Dan ternyata, Afgan juga tidak mengetahui bahwa adiknya mencintai Cinta yang di cintainya. Salahkah? Bukankah semua orang berhak memperjuangkan cintanya? Cinta dan Afgan terus memperjuangkan hubungan mereka atas nama cinta, tanpa ada duka.
Tapi, tak ada kisah tanpa konflik bukan? Hubungan dua sejoli itu diketahui Arkan yang memang sudah mendapatkan kabar dari berbagai sumber berita. Mulut satu, ke mulut lain, perkara yang sekecil zarah akan jari meruah-ruah. Arkan yang awalnya tidak percaya, mendatangi Coffecinnth. Matanya menelusuri satu persatu kursi, hingga menemukan dua sosok yang sangat di kenalnya.
Tanpa sengaja Afgan yang melirik kearah pintu mendapati adiknya menatap mereka dengan marah.
“Arkan!” Teriak Afgan dari pojokan yang membuat semua mata mengarah padanya, Cinta pun terkaget.
Afgan mengambil kunci mobil dan mengecup kening Cinta, lalu segera berlari keluar mengejar adiknya. Cinta yang paham hanya bisa menatap punggung kekasih, detik berikutnya, Cinta menyesap Mocca didepannya. Mocca adalah candu yang membuatnya tenang, sama seperti Afgan, berada di dekatnya selalu membuat siapa saja akan merasakan tenang dan nyaman.
Mocca di cangkir Cinta tinggal menyisakan ampas membuat film terpause karena harus memesan candu lainnya.
Tempat ini, kursi, meja, dan Mocca menjadi saksi setiap kisah Cinta. Cinta dan duka selalu berdampingan, tanpa kita sadari. Senyum bahagia dan air mata tak pernah lepas dari kisah kita.
Scene pun berlanjut, Telepon dari Afgan membuat Cinta bergegas kerumah sakit. Di koridor UGD telah menunggu Afgan, dan mama-papa nya.
“Gimana?” tatap cemas terlihat jelas dari manik mata Cinta.
Afgan memeluk Cinta, berusaha menenangkan perasaannya yang sedang tidak karuan. Cinta yang paham tak bersuara lagi, hanya menenangkan dengan satu pelukan. Kadang, cinta bisa membuat siapa saja bahagia, walau tanpa kata.
“Sayang, Tante tau hubungan kamu sama Afgan. Emm tapi……..” Tapi yang meragu di akhir kata itu membuat Cinta berada pada posisi sekarang.
Siapa bilang dicintai itu membahagiakan? Apalagi, cinta menjebak tiga manusia yang sedang mendamba cinta dalam satu lingkaran sama. Kalau boleh memilih, Cinta tidak akan bersama keduanya, tidak ada pertemuan, tidak ada cinta diantara mereka. Tapi kisah setiap orang berbeda-beda bukan, mungkin disinilah skenario kisah cinta Cinta dituliskan.
Setelah melihat Cinta dan Afgan di Coffecinnth, Arkan melajukan motor besarnya dan terus menaikkan gas hingga berada di titik tertinggi, tanpa diduga dibelokan jalan ada taksi yang sedang menurunkan penumpang. Rem depan yang ditarik secara tiba-tiba membuat Arkan jumping depan dan menghempaskan tubuhnya ke aspal dengan keras, Motor besar pun menimpa tubuhnya.
Keadaan Arkan sangat parah, tulang belakangnya patah, kaki kanan, tangan kanan cidera parah dan benturan di kepala membuat Arkan tidak sepenuhnya mengingat keadaan. Bahkan di awal, dia tidak mengenali Abangnya.
Ajaibnya, saat belum sepenuhnya sadar, nama ‘Cinta’ terus keluar dari mulutnya. Membuat siapa saja menangisi. Kisah cinta yang awalnya bahagia pun pasti akan ada luka, apalagi kisah cinta yang sudah di awali dengan luka.
Karena itupun, Cinta mengorbankan cintanya untuk sementara. Hingga waktu yang tidak ditentukan. Awalnya Cinta menikmati kisahnya atas nama cinta dan kemanusiaan. Semua orang, bahkan cintanya memohon agar Cinta bisa bersama Arkan yang kini sedang tidak berdaya.
Tiga bulan terlewati, keadaan Arkan semakin baik walau tetap harus diinfus dan hanya bisa berbaring. Namun, akhir-akhir ini Cinta lelah, sangat lelah berpura-pura. Sakit melihat kebohongan yang menggoreskan luka. Cinta lelah bersikap manis layaknya sepasang kekasih dengan orang lain, sementara kekasihnya melihat sendiri kemesraan dengan senyum yang menyiratkan luka.
 “Aku cape Gan!”
“Cinta, aku mohon”
Scene terakhir di hari ini, percakapan singkat yang meluapkan segala rasa yang ada. Cinta tau, Afgan juga lelah dengan semua keadaan ini.
Aku sebenarnya yang paling berkorban di kisah ini! Kapan aku bisa bahagia? Kapan kisah cintaku bisa berwarna secerah pelangi dilangit biru???!! Kapan!!!, Cinta menjerit didalam hati. Keegoisan menguasai gadis manis dengan rambut lurus panjang yang tergerai indah membingkai wajah tirusnya.
            Mocca keduanya menyisakan ampas. Ketika hendak memesan Mocca ketiga, Handphone Cinta kembali mengalunkan sebuah lagu.
Aku belajar mencintaimu, Mencintai tanpa syarat apapun.
Belum habis dering yang ada, Cinta sudah memencet tombol merah di sebelah kanan handphonenya.
Afgan. Sekarang perasaan Cinta sudah tak sekusut sebelumnya, tapi entah kenapa Cinta masih enggan mengangkat telepon dari kekasihnya.
Sabar…..Sabarlah cintaku…
Hanya sementara kau harus dengannya.
Kau harus bersamanya kini.
Sabar sabarlah cintaku
Takkan selamanya
 Karena sebenarnya kau tahu sesungguhnya aku

Aku yang paling kau cinta
Aku yang paling kau mau
…………..
Selamanya di hidupmu
Aku kekasihmu….
Sayup terdengar suara merdu salah satu penyanyi dari radio yang diputar oleh pemilik kedai. Cinta menikmatinya, mengartikan satu persatu lirik yang ada. Tanpa sadar air mata mengalir deras tanpa penahan. Ya, Perjalanan kisah cinta memang tak semudah menuliskan titik di akhir kata. Tak ada ilusi disini, hanya bahagia dan luka yang silih berganti.
            Lalu handphone Cinta bergetar menandakan adanya SMS. Dari Afgan, kali ini Cinta tak mau mengabaikan.
Tenanglah kekasihku. Ku tahu hatimu menangis.
Beranilah tuk percaya. Semua ini pasti berlalu.
Meski takkan mudah. Namun Kau Takkan sendiri.
Ku ada disini.
Sejenak Cinta meresapi satu persatu kata yang ada. Sepersekian detik kemuadian dengan cepat  Cinta membalas.
Untuk hatimu ku kan bertahan.
Sebentuk hati yang kunantikan.
Hanya kau dan aku yang tahu.
Arti cinta yang tlah kita punya.
            “Gan, Aku pasti akan bertahan. Demi cinta kita.” Gumamnya sambil menghapus basah di mata. Biarlah cinta ini berkorban, untuk kebahagiaan.
            Getar handphone membuat Cinta tak sabar membaca isinya.
            Beranilah dan percaya
Semua ini pasti berlalu
Meski takkan mudah
Namun kau takkan sendiri.
Ku ada disini.
“Kita akan berjuang bersama-sama, Sayang” Cinta terus mengulang membaca SMS dari kekasihnya. Butiran bening, turun perlahan untuk yang kesekian kalinya.
Tangan halus menyentuh pipi Cinta, menyapu butiran bening yang ada.
“Cinta, aku mencintaimu. Air mata ini, bukan hanya membuatmu luka, tapi aku juga” Afgan menatap Cinta tepat dimanik mata. Cinta hanya bisa tersenyum bahagia, walau tanpa kata.
Sore itu, Jingga senja dan secangkir Mocca yang tersisa menjadi saksi kisah cinta, walau masih bersama luka.

Cerpen ini diikutsertakan dalam kompetisi #SabarGan

Nb:
bacanya sambil dengerin lagu Afgan Syahreza di Album #L1VEtoLOVE
-- Sabar, Cinta Tanpa Syarat dan Untukmu Ku bertahan.

UPDATE:
Alhamdulillah.. Keberuntungan berada dipihak saya :')
Diantara cerpen #SabarGan lain yang juga sangat bagus, saya terpilih menjadi salah satu terbaiknya :')
Thanks Trinity Optima Production!
Cerpen ini juga di post di dalam website resmi Afganisme :')

You Might Also Like

33 L.O.V.E

silahkan beri komentar kritik dan saran.
Terimakasih.

#muchlove