Awang-Awang.

22.39



Sebelumnya…………….... aku tak pernah berpikir tentang Tuhan. Hidupku kelam dan tidak mempunyai tujuan. Tapi Atheis rasanya bukan karena aku bukannya tidak mempercayainya, aku hanya tidak mempedulikannya. Jika Atheis berkoar-koar dengan pikiran ‘sok teoritis’nya, aku hanya melenggang santai dengan bodohnya. Diriku terombang ambing dalam perasaan yang mengambang.
Haha! Katakan saja aku sedang stress sekarang, bahkan mungkin ketingkat kegilaan. Mengharap sesuatu yang bahkan aku saja tidak tahu apa, ya apalagi mendapatkannya. Impossible. Jangan katakan aku Hedonis kawan, kehidupan duniaku semrawutan. Jangan pula berpikiran kalau aku terlalu memikirkan akhirat kah? Hey! Kata akhirat saja tabu untukku, apalagi ‘terlalu memikirkan’nya.
 Oh please…. That’s not my style! Jangan tanyakan apa yang aku lakukan, karena aku juga tidak mengerti apa yang sedang berputar diotakku kala itu. Mengawang dan Tidur adalah pilihan mutlak dalam hidupku. Jujur, aku lelah.

Sampai suatu hari, seorang wanita bercadar yang mungkin iba melihat kehidupan ku yang miris tanpa tujuan. Wanita bercadar itu memberikanku segelas minuman yang menyejukkan ditengah siang dengan teriknya yang panjang.
“Assalamu’alaikum” Ucapnya yang hanya ku balas dengan lirikkan.
“Ukhti mau kemana?” Lanjutnya lagi tanpa peduli dengan lirikan tak suka orang yang sedang diajaknya bicara.
Lama aku diam. Wanita bercadar itu juga diam memperhatikanku mengawang.
“Aku tidak mempunyai tujuan”
“Semua orang pasti mempunyai tujuan”
“Tapi aku tidak!” ada kekosongan dalam nyaring suaraku. Wanita bercadar itu diam, aku tidak bisa menebak ekspresinya, hanya manik matanya yang memberikankan arti besar yang aku tidak tau apa jawabannya.
“Mau ikut saya?”
“Kemana?”
“Ikut saja.” Rangkulan tangannya yang berbalut kain hitam tak bisa ku tolak. Mungkin aku terlalu lelah untuk sekedar berkata tidak.
Mengawang. Wanita bercadar itu merangkulku sepanjang jalan.
"Hey. Kau ajak aku kemana?"
Wanita bercadar itu melirikku sekilas. Entah apa yang disembunyikannya di balik cadar hitam, senyum manis atau sinis?
"Stop! Kau gila?!" Aku menghempaskan tangan yang dirangkulnya.
"Kita sudah berkali-kali melewati jalan setapak ini!" Aku tak habis pikir, dengan bodohnya aku mengikuti wanita bercadar yang baru aku kenal.
"Cukup! sebenarnya ingin kau bawa kemana aku?" Suaraku melemah.
"Tidak tahu." Jawabnya singkat.
"Akh! Kau tak tahu akan membawaku kemana??!!!" aku tak habis pikir, "Kau membawaku berputar-putar tanpa tujuan, dan kau dengan mudahnya berkata kau tidak tahu?! Bodoh!"
"Sekarang, mengerti?" Wanita bercadar itu balik bertanya tanpa menghiraukan perkataanku.
"Kau gila?" aku tak mengerti.nya
"Mengerti?" Dia bertanya, mengarah pada satu jawaban tapi tak bisa kutangkap dengan cepat.
"Tentang tujuan." Lalu dia berlalu. Meninggalkan yang masih terpaku dengan kilas balik hidupku.
Oh. Dia kah bagian dariku.

"Kawan, Jika kau tak punya tujuan dalam hidup, hanyalah sia-sia semuanya.

                                    Tapi janganlah jadikan Dunia sebagai tujuan hidupmu, 
                                    karena masih ada kehidupan akhirat yang kekal abadi."
                                                                                                            أملا عريسك 





nb:  Cerpen ini hanya sebagian kecil
dari kegilaan imajinasi saya yang gak selesai
dan gak detail. jadi harap maklum karena akan
banyak yang gak ngerti. 






love,





Emelia Ariska

You Might Also Like

3 L.O.V.E

silahkan beri komentar kritik dan saran.
Terimakasih.

#muchlove