Lembayung Rindu

11.02


Matahari belum condong ke barat, tetapi awan sudah menghitam dan bulir-bulir penghidupan mulai berjatuhan. Gerimis romantis di desa yang masih rimbun dengan pepohonan. Pohon-pohon gaharu sesekali bergoyang dihempas angin, nampak begitu pasrah dengan takdir Tuhan.  Aroma hujan, rumput basah dan tanah becek menguar. Membuat suasana diluar terlihat damai menentramkan. Tidak selaras dengan hatiku yang hilang.
Aku menghela napas panjang. Cokelat panas buatan Ibu masih kupegang untuk menghangatkan. Duduk termenung memperhatikan gerimis lewat kaca yang berembun. Aku menyeka mataku, ia mengembun. Dada ku terasa sesak, mengingat beban berat.
Aku tidak akan menangis.
Aku menghela napas untuk kesekian kali. Berharap beban ini bisa berkurang disetiap hembusnya. Tanganku pelan menyentuh kaca, mengukir sebuah nama. Lembayung.
“Nak,” Sentuhan lembut di bahu mengembalikan diriku pada kenyataan.
Aku tersenyum.
Ibu. Guratan tipis pada dahi dan rambut yang memutih tidak menyembunyikan kecantikannya. Aku tahu, hidup yang dijalaninya tidaklah mudah. Menjadi tulang punggung keluarga setelah Ayah meninggalkan kami untuk selamanya. Usia ku saat itu baru menginjak lima tahun sungguh tidak mengerti apa-apa. Yang aku tahu adalah ayah tidak pernah pulang.
“Mau duduk diteras?” Ibu tersenyum.
Sejenak aku memperhatikan manik matanya. Mata yang tulus, tidak pernah sekalipun aku melihatnya mengeluarkan airmata. Aku takjub, mengapa aku tidak bisa sekuat ibu?
Nggih.”
Ibu mendorong kursi roda yang aku duduki. Hatiku sakit. Di tahun ke delapan belas setelah kepergian ayah, Ibu harus kembali menjadi tulang punggung keluarga. Harusnya aku.
Aku, Bu.
“Kamu tahu filosofi lembayung, Nak?” Ibu membenarkan posisi kursi rodaku.
Aku tersenyum. Tahu persis.
Ibu menatap hujan yang mulai menderas. Matahari tak ada tanda akan muncul. Bunga-bunga mawar yang merekah di halaman tetap terlihat cantik meski basah. Angin berhembus menggoyangkan dahan pepohonan, dingin seketika menyergap kulitku, menelusup dalam, kemudian tiba di hatiku.
Angin menerbangkan angan.
Dingin membekukan keinginan.
“Lembayung. Nama yang mempunyai kekuatan.” Ibu memelukku dari belakang.
Lembayung. Nama yang Ayah berikan. Lembayung berarti waktu ketika langit memerah jingga, waktu-waktu diakhir senja, waktu dimana tangisku pertama kali mengudara. Si Lembayung kecil pipinya berisi dan merah merona, kulit putih bersih, dan rambut hitam lebat membuat siapa saja akan berebut untuk menciuminya.
Pipi yang merah merona, kulit putih bersih, bibir tipis merah alami, dan rambut hitam lebat nan panjang serta tubuh yang proporsional, adalah Lembayung yang sekarang. Semua kesempurnaan fisikku diturunkan dari Ibu.
Kesempurnaan fisik? Tidak lagi, Lembayung.
Aku mendengus kesal pada hati yang telah patah.
Semangatku dalam belajar sangat tinggi. Aku terbiasa menyusun mimpi-mimpi dan berusaha semaksimal mungkin untuk menggapainya. Aku yakin bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha. Di hari pertama sekolah, Ayah mengantarkanku ke Taman kanak-kanak -hanya hari pertama, karena setelah itu dia tidak pernah pulang-. Maka saat Ayah mengusap rambutku sebelum aku masuk kelas, dan berkata : “Belajar yang rajin, Lembayung. Biar nanti bisa menggantikan Ayah.”, Lembayung kecil menggangguk dan berjanji untuk melakukannya, meski saat itu belum mengerti apa-apa.
Ibu bercerita bahwa di kota tempat kami tinggal dahulu ada sebuah Sekolah Luar Biasa yang di dirikan oleh kesepakatan warga. Hal itu di latar belakangi sekitar 1 dari 10 anak dikotaku adalah anak ‘luar biasa’, selain karena genetik juga di karenakan kurangnya edukasi ibu hamil dalam perilaku hidup sehat, serta kurangnya asupan makanan yang bergizi sehingga mempengaruhi kondisi janin.


Ayah yang berwawasan luas dan cerdas sangat jelas terlihat ketika menyikapi berbagai kebijakan yang ada di masyarakat, sehingga Ia dipercaya untuk menjadi pengajar disekolah itu. Awalnya Ayah menolak, merasa berat karena harus dibebani dengan tanggungan yang sama luar biasanya. Tetapi Ibu menyakinkan bahwa ini misi kemanusiaan. “Anak-anak luar biasa itu membutuhkanmu, Sayang.” Kalimat sederhana dari Ibu ini lah yang menjadi pemacu semangatnya.
Sepeninggalnya Ayah kami pindah ke desa, adaptasi bukanlah hal yang mudah, aku sering menangis dan tidak mau sekolah, tetapi di setiap semangatku hilang Ibu selalu menceritakan tentang perjuangan mereka. Aku menyukainya dan tidak pernah bosan. “Aku akan membuat seluruh catatan pendidikanku kelak bercahaya. Sempurna!” Batinku, teringat janji pada Ayah.
Tak heran kecakapan dan kecerdasanku benar-benar menjadi cahaya. Catatan pendidikanku benar-benar sempurna. Mimpi-mimpiku tercapai satu persatu. Menjadi wanita yang cerdas, memiliki jiwa sosial yang tinggi, aktif dalam berbagai kegiatan kampus menghantarku menjadi Mahasiswa Berprestasi skala nasional. Semua orang mengenal Lembayung yang penuh semangat dengan mimpi segudang. Mempunyai tekad kuat dan tidak pernah putus asa.
Tapi itu dulu. Sebelum Tuhan merampas mimpi-mimpiku!
Aku terisak. Sakit.
Hati ku sakit.
“Nak....” Ibu memelukku erat. Kini Ia berada tepat dihadapanku.
“Tuhan merampas mimpi-mimpiku, Bu!” Teriakku dengan suara tercekat karena tangis yang menderas.
“Lembayung.... Tidak, Nak.. Tidak.”
“Tuhan mengambil kaki ku, Bu! Mimpi ku untuk terbang hingga ke angkasa tidak akan pernah tercapai!” kini suaraku bersaing dengan nyaringnya hujan.
Hatiku patah berkeping-keping ketika bangun pagi itu. Ruangan putih dengan bau khas rumah sakit membuat kepalaku pening. Mataku masih berkunang-kunang. Saat itu aku menyadari ada yang kurang.


“Kaki ku?” Aku tercekat. Menahan napas. Berusaha menyelaraskan apa aku lihat melalui saraf diproses sampai ke otak. Masih belum sepenuhnya menerima informasi dengan kesadaran.
Semua orang didalam ruangan terdiam. Ibu, seorang laki-laki berjas putih, dua orang wanita berpakaian putih dengan infus ditangannya melihatku dengan nanar, tatapan iba yang paling ku benci dari semua orang setelahnya.
Aku menangis. berteriak keras hingga suara ku habis menyatu dengan sedu sedan. Tidak menerima keadaan yang tidak pernah aku bayangkan. Hatiku patah. Kepingannya seakan  saling mencabik dan menusuk.
Di pagi yang sama di hari sebelumnya, aku telah mempercantik diri didepan kaca dengan perasaan berbunga-bunga. Hatiku tidak pernah seindah ini. Penganugerahan gelar cumlaude dan mahasiswa IPK tertinggi akan aku terima. Wisuda dengan waktu pendidikan 3,5 tahun walaupun dengan segudang kesibukan organisasi bisa aku handle dan tetap mendapat prestasi yang gemilang. Pencapaian luar biasa. Gelar S.Pd yang aku perjuangkan akan segera ada dibelakang namaku. Aku benar-benar bercahaya.
“Ayah, ini janjiku.” Ucapku membuat semua yang memandang berkaca-kaca menahan haru. Berdiri dipodium menyampaikan pidato didepan ribuan pasang mata disebuah gedung megah ibukota adalah suatu kehormatan yang aku terima. Walaupun Ibu tidak hadir di momen pentingku karena sedang sakit, sehingga aku tidak bisa memaksanya. Tapi tak apa. Aku tahu itu tak akan mengurangi rasa bangga Ibu pada anak gadisnya.
Semua euforia hari itu adalah kebahagian yang memenuhi semesta, bunga dan bingkisan dari teman sejawat juga adik-adik tingkat, bahkan dosen pembimbingku memberikan sebuah buku dengan judul “The Great Women” Karya Muhammad Ali Al-Allawi yang berkisah tentang wanita dan perjuangannya. Banyak kamera mengabadikan momen yang istimewa. Kisah yang sempurna.
Tapi semua lenyap begitu saja.
Kejadian itu begitu cepat. Bahkan aku tidak ingat secara detail apa yang terjadi padaku. Ketika itu aku sedang perjalanan pulang kedesa dengan menaiki minibus. Perasaan bahagia masih memenuhi dada. Matahari sudah sangat condong ke ufuk barat. Cahaya matahari perlahan dari kuning keemas-emasan menjadi merah jingga. Hawa panas berangsur-angsur menjadi sejuk. Jalanan berkelok-kelok dengan aspal yang seadanya, melewati bukit-bukit menuju desaku yang masih terjaga asri. Pohon-pohon gaharu kokoh dengan batang yang besar dan daun hijau segar. Burung-burung beterbangan seakan menikmati lembayung senja yang memerah jingga di cakrawala.
Masih dengan kebaya yang aku kenakan dan toga yang aku letakkan disebelah tempat dudukku. Aku ingin Ibu melihat Lembayung kecilnya telah bertransformasi menjadi wanita dewasa dengan prestasi seindah lembayung senja. Aku tersenyum membayangkan komentar Ibu nanti. Ah Ibu pasti sangat senang.
Tiiiiiitttttt..... klaskon panjang sejurus dengan sopir yang membantingkan stir membuat semua yang ada didalam minibus tersentak. Tak sempat berpikir apa-apa ketika sedetik kemudian disusul bunyi dentuman keras. Sangat keras. Semua menghitam. Setelah itu aku terbangun di pembaringan rumah sakit dengan keadaan memprihatinkan. Hanya itu yang aku ingat.
“Ibu rindu...” Lembut tangan menyentuh pipiku yang basah. Mengusapnya. Menatap mataku. Mata itu berkaca-kaca.
Ibu menangis? batinku tanpa bisa berkata.
“Lembayung. Nama yang mempunyai kekuatan. Lembayung yang membuat Ibu tetap bahagia meski berduka. Senyumanmu adalah kekuatanku. Semangatmu adalah jiwaku.” Mata itu menatap ku dalam, butiran bening mulai berjatuhan.
“Lembayungku, jangan pernah berpikir kamu kehilangan segalanya.” Ibu mengusap pipiku untuk kesekian kali.
“Lembayung ku sayang, percayalah nak, Tuhan tidak akan melihat seberapa sempurnanya fisikmu. Tuhan hanya akan melihat amal ibadah dan seberapa bermanfaat kamu untuk orang lain. Ketika ayahmu dipercaya untuk mendidik anak-anak luar biasa, mereka membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menjadi bercahaya dan luar biasa. Mampu melakukan hal selayaknya orang-orang normal seperti menyanyi, bermain biola, bermain alat musik, teaterikal, baca puisi, membuat kerajinan tangan, melukis dan banyak lagi. Nak, kita semua sama. Kita memiliki kemampuan dan potensi diri. Lembayung mampu untuk kembali bercahaya kan?” Manik mata Ibu menatapku dalam, seakan mencari jawaban.
“Kau tahu Nak apa yang lebih berati dari pada fisik? itu adalah hati.” tanyanya tanpa meminta jawaban, “Sekarang banyak orang-orang dengan fisik sempurna, kekayaan yang melimpah ruah, tapi masih rakus memakan yang bukan hak mereka, menggendutkan dompet dengan segala cara. Orang miskin dibuat semakin miskin, tanpa melirik sedikitpun pada yang melarat. Kau tahu, mereka itu fisik sempurna, tapi buruk hatinya. Tuhan membiarkan mereka menikmati keduniaan, tapi menghilangkan nikmat berupa hati yang penuh cinta. Tuhan memberi kasih pada semua umat-Nya, tetapi hanya hati yang bersyukur yang akan mendapat lebih berupa kasih sayang-Nya. Percayalah, Sayang. Tuhan mempunyai rencana yang indah.”
            Hujan semakin deras. Selaras dengan tangisku yang sama derasnya. Hatiku terombang ambing pada kefanaan. Mimpi ku sangat tinggi hingga saat aku terjatuh, terlalu sulit untuk bangkit lagi. Mimpi yang seluas cakrawala dan seindah lembayung senja sudah ku atur dengan sempurna.
            “Tidakkah kamu merindukan lembayung di ufuk barat yang memerah jingga menguasai cakrawala? Siapa saja akan mengaguminya. Tidak memedulikan dimana saja, semua orang akan terpesona. Tetapi ketika lembayung berubah menjadi awan hitam dengan hujan yang tidak henti-henti, percayalah semua orang merindukan lembayung yang mengangkasa.”
            Aku diam. Menatap mata redupnya.
“Hati Ibu adalah ayah dan kamu, Nak. Ketika Ayah mu pergi, hati Ibu telah dibawa separuhnya. Kini hati Ibu menyisa separuh. Separuh tetapi menjadi sumber kekuatan yang penuh. Mengertilah, Nak. Hati ini membutuhkan senyuman dan semangatmu sebagai kekuatan jiwa. Jika tidak, Ibu akan benar-benar mati.” Kini Ibu yang terisak. Pertama kali kulihat butiran bening mengalir di pipinya.
Aku memeluk Ibu erat. Tidak ada kata yang terucap. Hanya tangisku dan Ibu yang menyatu bersama derasnya hujan.
Lembayung pun rindu, pada lembayung yang mengangkasa.
Mimpi-mimpi seluas cakrawala, seindah lembayung merah jingga tak akan ku biarkan luruh ke bumi seperti sehelai daun yang terenggutkan dari tangkai pohonnya. Ku susun lagi kepingan hati yang patah. Tak apa. Cukup kaki ku yang hilang. Tidak akan kubiarkan hatiku menghilang.
“Aku akan memenuhi janjiku untuk menggantikanmu, Ayah. Mereka akan bercahaya dengan ‘luar biasa’ lebih dari lembayung senja. Akan ku buktikan pada dunia bahwa disability is an ability. Keterbatasan bukanlah penghalang untuk menjadi luar biasa. Kemampuan dan hati yang tulus akan ku pegang sebagai cahaya yang kelak akan membawa kami mengangkasa.” Aku menyusun kembali mimpi-mimpiku. Bukan lagi tentang ambisi. Ini adalah misi.
Hujan masih deras. Lembayung merah jingga harusnya sudah menguasai cakrawala di ufuk barat sana. Ku biarkan butiran bening jatuh hari ini, deras untuk terakhir kalinya.


            Dan esok hari, Lembayung akan kembali bercahaya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------



Lembayung Rindu adalah sebuah cerpen motivasi bagi penyandang disabilitas, membuktikan bahwa disability is an ability, keterbatasan bukan penghalang kita untuk berkarya. Sebagai Generasi Penerus, Muda-mudi harus mempunyai motivasi dalam hidupnya dan yang terpenting adalah selalu bersyukur kepada Allah karena diberi kesempatan untuk hidup dan berkarya.

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari) 

Maka, ketika Allah masih memberi kita nikmat kesehatan, tidak cacat fisik atau mental, maka gunakanlah kenikmatan itu untuk semakin dekat kepada-Nya. Ketika kita sehat, maka nikmat itu dimanfaatkan untuk menunjang ibadah. Hal ini berkesinambungan dengan nikmat waktu luang yang Allah berikan, jangan biarkan hari-hari kita sibuk dengan urusan dunia saja, hingga hati kita menjadi kering kerontang tanpa pernah menerima siraman rohani, tubuh layu tak tersentuh wudhu, serta bibir yang tak pernah basah oleh dzikir. Na'udzhubillahi min dzalik. Semoga kita bisa benar-benar memanfaatkan nikmat sehat dan waktu luang untuk terus beribadah kepada-Nya. 

Cerita pendek ini saya persembahkan untuk para generasi penerus dalam JamboreICT LDII Jatim kategori lomba artikel (cerpen). Semoga menginspirasi!

dan untuk teman-teman ayo memanfaatkan waktu luang kita untuk berkarya. Ikuti JamboreICT LDII Jatim . Berkarya sekaligus berdakwah yang akan menjadi ladang pahala kita. ada juga kategori lomba video, kategori lomba website dan kategori lomba SEO. 

untuk info lebih lanjut bisa lihat di website JamboreICT LDII Jatim .

Semangat Berdakwah dalam Karya!




Love,

Emel.





You Might Also Like

1 L.O.V.E

silahkan beri komentar kritik dan saran.
Terimakasih.

#muchlove