15/11/13

Berpakaian tapi Telanjang (Hijab Syar'i)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, 
Ada dua golongan penghuni neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang selalu bersama cambuk bagaikan ekor-ekor sapi, dengannya mereka memukul manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang. Mereka berjalan dengan melenggak-lenggok, kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga & tidak mencium baunya, padahal bau surga bisa tercium dari jarak demikian & demikian”. [HR. Muslim Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]
Naudzubillahi Min Dzalik. 

Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah dan bukan termasuk golongan wanita-wanita berpakaian tapi telanjang yang dimaksud dalam hadist tersebut. aamiin


Eh sebelumnya Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... 

waaahh Emel kok jadi sok agamis gini? 
Wahaha.. aish enggak lah. Saya cuma mau ngeshare sesuatu yang semoga bermanfaat. yang beberapa referensinya saya dapat dari buku dan internet hehe. bukan maksud menggurui ya teman-teman ;)
sharing aja disini hoho

Oh iya ..................
Untuk pengingat kita Ukhti :)
Nah kadang kita melalaikan perintah Allah ini dengan bilang "Jilbabin dulu hatinya, baru fisiknya."
balik lagi "Berjilbab itu wajib, Bukan Sunnah!"
Di bukunya Oki Setiana Dewi yang Melukis Pelangi, ada potongan kalimat yang menohok buat saya sekaligus bikin saya sadar juga tentang jawaban untuk pernyataan yang sering bikin kita lalai itu,
".....kenapa tidak kita ubah pradigmanya? Jilbabkan dulu kepala kita, sambil kita barengi dengan menambah ilmu. Setelah itu, perlahan semua sisi kehidupan kita akan mengikuti" 

Nih..
sumber
Yaps. Dan kaya kutipan di buku Yuk Berhijab nya Felix Siauw,


"Hijab tanpa Nanti, Taat tanpa Tapi"

Berhijab juga akan membuat kita berpikir beribu kali untuk melakukan hal-hal yang tidak baik dan membantu kita lebih banyak mengingat akhirat.. Hijab adalah bukti ketaatan kita kepada Allah.. Subhanallah.....

 "Wanita berhijab belum tentu sholehah, tapi wanita sholehah sudah pasti berhijab"
Yuk aahh... Kembali kedalam keyakinan diri masing-masing :) Tapi kalau boleh berbagi, Hijab itu membawa banyak manfaat untuk diri kita loh, Ukhti.
Misalnya nih, di jalan ketemu sama cowo-cowo yang suka godain cewe. Biasanya di godain pake di cuit-cuitin atau "Hai cantik" "Cewe" dan lain sebagainya sambil ngeliatin body si cewe dari atas sampe bawah.
Setelah pakai Hijab, Insya Allah yang kata-kata untuk ngegodain itu di ganti sama "Assalamu'alaikum......" 
waaah siapa yang tidak bahagia, di doakan Semoga diberikan keselamatan atasmu, dan rahmat Allah serta berkahNya juga kepadamu :')

Oke.. Sekarang kita ngebahas bagaimana biar kita tidak termasuk dalam golongan wanita yang Berpakaian tapi Telanjang. 
sebagai pengingat kita ukthi, agar kita tetap bisa mulia di mata Allah. Sama-sama belajar ya hehe 

10/11/13

Demokrasi Otak Udang (Percakapan Pahlawan)

“Harga diri ini di injak, Bu.” Pak Karno berbicara sambil mencangkuli sawah.

“Kenapa to, Pak?” Bu Fatma menyahut dari pondok tepat di samping sawah sambil menyiapkan makan untuk Sang suami tercinta.

“Woh Ibu ini ketinggalan berita, kudet. Ndak liat tv opo?” Sang Suami mendekati istrinya yang masih sibuk dengan lauk tempe dan pucuk singkong.

“Emang kita punya tv, Pak?” Lengkungan senyum dipipi keriputnya terhias indah tanpa celah.

“Hahaha. Oh iya… Bapak lupa, Bu. Buat makan aja susah yo..” Lalu sepasang suami istri itu tertawa renyah. Seolah tiada beban menggantung dipundak mereka.

“Memangnya kenapa, Pak? Sampe harga diri diinjak-injak.” Sang Istri menuangkan air putih untuk suaminya.

“Iniloh….. Maling dimana-mana” Pak Karno meneguk air yang diberikan Bu Fatma, setelah menyelesaikan pekerjaan dan cuci tangan.

“Lah. Apa hubungannya to Pak sama harga diri diinjak-injak?” Bu Fatma beralih menatap heran Suami.

“Ya ada to…. Maling maksud bapak itu si Koruptor. Setan seng ambil uang rakyat.” Ucapnya mulai menggebu-gebu.

“Itu koruptor nama ne, Pak” Bu Fatma membenarkan.

“Walah. Mau koruptor, maling, pencuri ya sama aja Bu. Sama-sama nyuntan punya orang.” Setiap kata diucapkan dengan penekanannya. “Koruptor itu terlalu bagus untuk para cunguk itu, Bu. Bangga mereka jadi Koruptor. Bangga jadi Maling! Semiskin-miskinnya orang miskin, Ya lebih miskin koruptor itu. Wong mereka aja nyuri duit orang miskin.” Lanjutnya masih dengan penekanan disetiap kata.

“Walaaahh.. Iyo ya pak. Kita yang ndak punya Tv ini, kerja banting tulang sampe kulit tinggal tulang, terus lauk tempe doang bahkan kadang garam, ternyata lebih sugih dari maling duit rakyat itu yo Pak.” Bu Fatma menimpali.

“Ya jelas toh. Percuma lah, Pahlawan Indonesia berjuang sampai nyawa pun di korbankan. Wong masyarakat Indonesia ndak pernah bersyukur. Malah ngelupain perjuangan nya. Omong Kosong itu demokrasi pancasila, yang ada demokrasi otak udang. Ndak pernah mikirin rakyat kan.” Saking semangatnya pak Karno menunjuk-nunjuk kepala nya sendiri dengan emosi.

“Iya to Pak. Jasa Para Pahlawan ndak pernah di perhitungkan. Terus para pemimpin Negara itu apa gunanya?”

“Ya mereka Pahlawan kesiangan! Apalagi Si Maling duit rakyat. Bisa nya ngebacot terus.” Pak Karno menyantap hidangan nikmat alakadarnya.

“Jadi, yang seharusnya merasa harga dirinya diinjak-injak itu ya para maling duit rakyat alias koruptor itu, Pak.” Bu Fatma ikut menyantap tempe buatannya.

“Loh kok bisa?” Pak Karno menyahut heran masih dengan mulutnya yang penuh.

“Yaiyalah. Dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, jabatan yang tinggi, si koruptor itu masih aja ngemalingin duit orang miskin kaya kita. Berarti si maling ‘bertahta’ itu menginjak-injak harga dirinya sendiri!” Bu Fatma menjelaskan.

“Kalo ketemu sama maling itu, Bapak pengen sekalian nginjak-nginjak muka kinclong mereka, Bu. Biar ngerasain sakitnya hidup jadi orang miskin kayak kita.” Pak Karno bersungguh-sungguh

“Kelakuan mereka ituloh menjijikan, Pak. Ndak tau diri”

Siang itu, percakapan sepasang suami istri renta terus berlanjut. Ada harap bahagia di umur senja, terus membahasi para maling uang mereka. Koruptor miskin yang memalingi duit orang miskin.

***
Selamat Hari Pahlawan, Indonesia!


Dulu Pahlawan berperang di medan perang.
Sekarang waktunya kita para pemuda bangsa yang berjuang.
Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

                                    dengan Demokrasi Pancasila!
                                                      Bukan Demokrasi Otak Udang...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...