Demokrasi Otak Udang (Percakapan Pahlawan)

03.21

“Harga diri ini di injak, Bu.” Pak Karno berbicara sambil mencangkuli sawah.

“Kenapa to, Pak?” Bu Fatma menyahut dari pondok tepat di samping sawah sambil menyiapkan makan untuk Sang suami tercinta.

“Woh Ibu ini ketinggalan berita, kudet. Ndak liat tv opo?” Sang Suami mendekati istrinya yang masih sibuk dengan lauk tempe dan pucuk singkong.

“Emang kita punya tv, Pak?” Lengkungan senyum dipipi keriputnya terhias indah tanpa celah.

“Hahaha. Oh iya… Bapak lupa, Bu. Buat makan aja susah yo..” Lalu sepasang suami istri itu tertawa renyah. Seolah tiada beban menggantung dipundak mereka.

“Memangnya kenapa, Pak? Sampe harga diri diinjak-injak.” Sang Istri menuangkan air putih untuk suaminya.

“Iniloh….. Maling dimana-mana” Pak Karno meneguk air yang diberikan Bu Fatma, setelah menyelesaikan pekerjaan dan cuci tangan.

“Lah. Apa hubungannya to Pak sama harga diri diinjak-injak?” Bu Fatma beralih menatap heran Suami.

“Ya ada to…. Maling maksud bapak itu si Koruptor. Setan seng ambil uang rakyat.” Ucapnya mulai menggebu-gebu.

“Itu koruptor nama ne, Pak” Bu Fatma membenarkan.

“Walah. Mau koruptor, maling, pencuri ya sama aja Bu. Sama-sama nyuntan punya orang.” Setiap kata diucapkan dengan penekanannya. “Koruptor itu terlalu bagus untuk para cunguk itu, Bu. Bangga mereka jadi Koruptor. Bangga jadi Maling! Semiskin-miskinnya orang miskin, Ya lebih miskin koruptor itu. Wong mereka aja nyuri duit orang miskin.” Lanjutnya masih dengan penekanan disetiap kata.

“Walaaahh.. Iyo ya pak. Kita yang ndak punya Tv ini, kerja banting tulang sampe kulit tinggal tulang, terus lauk tempe doang bahkan kadang garam, ternyata lebih sugih dari maling duit rakyat itu yo Pak.” Bu Fatma menimpali.

“Ya jelas toh. Percuma lah, Pahlawan Indonesia berjuang sampai nyawa pun di korbankan. Wong masyarakat Indonesia ndak pernah bersyukur. Malah ngelupain perjuangan nya. Omong Kosong itu demokrasi pancasila, yang ada demokrasi otak udang. Ndak pernah mikirin rakyat kan.” Saking semangatnya pak Karno menunjuk-nunjuk kepala nya sendiri dengan emosi.

“Iya to Pak. Jasa Para Pahlawan ndak pernah di perhitungkan. Terus para pemimpin Negara itu apa gunanya?”

“Ya mereka Pahlawan kesiangan! Apalagi Si Maling duit rakyat. Bisa nya ngebacot terus.” Pak Karno menyantap hidangan nikmat alakadarnya.

“Jadi, yang seharusnya merasa harga dirinya diinjak-injak itu ya para maling duit rakyat alias koruptor itu, Pak.” Bu Fatma ikut menyantap tempe buatannya.

“Loh kok bisa?” Pak Karno menyahut heran masih dengan mulutnya yang penuh.

“Yaiyalah. Dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, jabatan yang tinggi, si koruptor itu masih aja ngemalingin duit orang miskin kaya kita. Berarti si maling ‘bertahta’ itu menginjak-injak harga dirinya sendiri!” Bu Fatma menjelaskan.

“Kalo ketemu sama maling itu, Bapak pengen sekalian nginjak-nginjak muka kinclong mereka, Bu. Biar ngerasain sakitnya hidup jadi orang miskin kayak kita.” Pak Karno bersungguh-sungguh

“Kelakuan mereka ituloh menjijikan, Pak. Ndak tau diri”

Siang itu, percakapan sepasang suami istri renta terus berlanjut. Ada harap bahagia di umur senja, terus membahasi para maling uang mereka. Koruptor miskin yang memalingi duit orang miskin.

***
Selamat Hari Pahlawan, Indonesia!


Dulu Pahlawan berperang di medan perang.
Sekarang waktunya kita para pemuda bangsa yang berjuang.
Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

                                    dengan Demokrasi Pancasila!
                                                      Bukan Demokrasi Otak Udang...

You Might Also Like

22 L.O.V.E

silahkan beri komentar kritik dan saran.
Terimakasih.

#muchlove