2 M berapa banyak? (Cerpen)

21.35

“Dua M. itu apa kak?” Ara adikku yang masih 10 tahun menunjuk tulisan di layar televisi di warung kopi, langganan kami. Bukan, bukan kami berlangganan kopi di situ. Tapi, lebih tepatnya tempat  kami berlangganan menonton televisi.


“Dua miliar” ucap Ibu sambil memperhatikan berita di tv.

“Ooh. Jadi mereka mau bikin dua miliar toilet bu?” Khairan, Adik bungsu ku yang 8 tahun ikut berkomentar, Ia mengangguk seakan mengerti.

“Bukan tau. Itu dua miliar harga toiletnya!” Ara menjulurkan lidahnya pada Khairan. Seolah Ia sendiri tau banyak “Emm.. dua miliar itu harga satu toilet gitu kak?” Sudah ku duga, adikku yang satu ini memang sok tau. Haha

“Bukanlah. Dua miliar itu total semuanya” aku juga tidak tau, apa yang aku katakan ini benar atau—entahlah. Yang penting kedua adikku itu percaya, jadi mereka tidak tau kebodohan kakaknya. Hehe

“Ooh. Eh, dua miliar itu banyak banget ya kak? Kok orang-orang pada protes?  Padahal kan biasa aja yah” lagi-lagi Ara memberikan pertanyaan yang aku tidak yakin, kalau aku bisa menjawabnya.

Aku hanya tersenyum dalam diam. Aku juga tidak tau berapa banyak dua miliar itu. Aku tidak pernah punya uang sampai dua miliar. Yaa paling banyak dua puluh ribu, itupun aku baru pernah mendapatkannya sekali dan aku mendapatkannya di jalanan. Jangankan punya dua miliar, memegang dan melihatnya pun aku tak pernah. Emm... bahkan aku tidak tau berapa banyak angka nol di belakang angka dua.


“ga banyak tau, kak. Kan dua miliar cuma buat gantiin toilet aja.” Khairan berkata lugu.
Aku memandang ibuku, yang hanya geli mendengar pertanyaan lugu dari kedua adikku. Ah ibu, tidak memberikan jawaban untuk adikku dan tentu saja tidak membantuku menjawab pertanyaan itu.

“Ah iya yah. Dua miliar kan cuma buat toilet yah, pinter juga kamu dek. Eh tapi kenapa mereka yang di tv pada mempermasalahin itu sih kak? Aneh deh. Padahal kan cuma buat toilet aja” Kedua adikku itu memang sangat suka membahas hal-hal yang (ku anggap) tidak penting. Semua di pertanyakan, apasaja yang membuat mereka pernasaran akan mereka tanyakan padaku sampai mereka benar-benar paham. Ya aku tau, mereka anak-anak pintar. Kelak akan menjadi orang-orang sukses. Semoga saja. Tidak seperti ku, yang SD saja tidak tamat. Padahal seharusnya aku ini sudah kelas tiga SMP.

“Dua miliar itu banyak banget dek. Banyaaaaakkkk banget” entahlah. Aku juga tidak tau yang ku katakan ini benar atau tidak. “Kalo ibu punya dua miliar, ibu pasti bisa beli rumah gedong kaya Pak Albert. Jadi kita gak perlu nungguin ibu pulang kerja dari rumah Pak Albert dulu, baru bisa makan.” Lanjutku. Semenjak Ayahku meninggal dua tahun lalu,  Ibu ku memang bekerja sebagai pembantu di rumah Pak Albert. Ibu biasanya akan membawa makanan yang enak, tentu saja makanan itu makanan sisa yang masih bisa di makan.

Sebenarnya aku juga tidak tau, berapa harga rumah Pak Albert. Yang pasti rumah mewah itu sangat mahal, tapi aku tidak tau harga rumahnya kurang dari dua miliar atau lebih dari dua miliar. Aku memang tidak tau berapa banyak dua miliar itu, jadi aku asal bicara saja. Yang penting adik-adikku masih menganggap kakaknya ini sebagai orang terpintar. Yaaa, paling tidak lebih pintar dari mereka.

“Jadi dua miliar itu banyak kak?” lagi-lagi Ara mengulangi pertanyaan yang intinya sama. “pantes aja yah mereka pada protes kak. Sebagus apa yah toilet dua miliar itu? Bagus banget deh pasti.” Lanjutnya sambil menerawang jauh.

“Beneran kak? Emm.. toiletnya gimana yah? Apa ee’nya langsung bisa keluar tanpa kita ngeden dulu kak? Waa keren yah! Suruh Ibu beli dong kak. Jadi Khairan ga perlu cape-cape ngeden kalo ee’, kak.” astaga.. Khairan memang masih sangat lugu. Orang-orang yang juga numpang nonton di warkop ini serempak cekikikan. Aku dan ibu hanya menahan tawa.

“Jorok kamu!  Enggak gitu lah. Tapi toiletnya itu gede dek. Mungkin lebih gede dari rumah kita.” Rumah yang dikatakan Ara, tentu saja bukan rumah bagi orang-orang kaya. Karena mungkin lebarnya tidak lebih dari bak sampah didepan rumah mereka.

“bukan mungkin lagi dek, tapi emang pasti lebih gede.” Aku juga sok tau. Tapi sepertinya memang pasti lebih besar.

“gitu ya kak? Sebesar apa yah? Wiihhh.. pasti deh di dalem toiletnya ada tipi, ada radio, ada mesin cuci, ada kasur terus ada dapurnya juga, ada emm..... adaa.... apasih itu, emm yang bisa bikin dingin makanan.” Ara berusaha mengingat.

“kulkas?” tanyaku

“Nah itu!! Iyaa kulkas” Ara tersenyum lebar, seperti baru mendapatkan sesuatu yang hebat saja. Aku hanya menggeleng melihat senyum najong dari nya. Hihi

“Lah, kalo gitu sih Anggota dewan bakal betah di toilet, Nak. Ada-ada aja kamu.” Ibuku menanggapi.

“Haha. Mungkin bener juga kali bu kata Ara, jadi mereka bakal betah di toilet. Mereka bisa bebas buat tidur di toilet tanpa masuk tipi. hahaH” Aku masih menonton tv yang dari tadi menyuguhkan berita tentang ‘Toilet 2 M’.

“Jadi mereka bakal menghabiskan waktu saat rapat di dalam toilet. Huahahaa. Pantes ajasih mereka bikin toilet yang nyaman. Eem.. Kenapa gak sekalian aja sih mereka rapat di dalam toilet kalo gitu? Jadi kan mereka bisa nyaman saat rapat. Eh. huahahaa” Aku masih tertawa lepas. Sementara Ibu hanya tersenyum geli. Ara dan Khairan bengong melihat tawaku, mereka pasti tidak mengerti maksudku.

“Semoga aja yah Bu, Toilet dua miliar itu bakal bikin kinerja Anggota dewan lebih baik. Jadi, mereka bisa mikirin nasib rakyat kecil dengan otak yang bersih dan tentu aja perut yang bersih juga. Hehe. Yaaa, semoga aja Toilet dua miliar bisa bikin pendidikan di Indonesia lebih baik.” Aku menghela nafas.

“Semoga aja pendidikan emang bener-bener gratis, yaa maksudnya gak kaya sekolah Aira dulu,yang bilangnya gratis padahal bayar juga. Jadi Ara sama Khairan kan bisa jadi orang sukses gak kaya Aira. Semoga.”

Aku membelai lembut rambut kedua adikku itu, ku tatap mereka dengan butiran bening yang masih di mata. Hanya cahaya bulan yang bisa memberiku sedikit penglihatan untuk memperhatikan manik mata keduanya.

Ibu melingkarkan tangan tuanya di pinggangku sambil membelai kepala kedua adikku secara bergantian. Tangan tua yang tidak begitu tua. Tangan tua yang masih memberikan kelembutan di setiap belaian.

You Might Also Like

17 L.O.V.E

silahkan beri komentar kritik dan saran.
Terimakasih.

#muchlove